Faktor Kebugaran Jasmani dan Psikologis Olahraga sebagai penyebab Cedera Olahraga
Pengaruh faktor psikologis terhadap cedera olahraga telah dibuktikan dalam banyak penelitian empiris. Hampir semua penelitian didasarkan pada teori stres atau pendekatan profil kepribadian. Meskipun sebagian besar penelitian menggunakan metode yang berbeda, hasilnya secara umum sepakat bahwa "peristiwa kehidupan" dapat memengaruhi risiko cedera pada atlet. Dalam konteks ini, dukungan sosial tampaknya memiliki efek penyangga. Menurut hasil yang ada, pengaruh strategi penanggulangan stres agak dipertanyakan. Dari banyak atribut psikologis yang telah diteliti terkait cedera olahraga, hanya kecemasan kompetitif yang terbukti terkait dengan terjadinya cedera. Profil kepribadian yang khas dari atlet yang "rentan cedera" tidak ada. Namun, beberapa penelitian telah menunjukkan kesiapan tertentu untuk mengambil risiko (kurangnya kehati-hatian, jiwa petualang) di pihak atlet yang cedera. Dalam tinjauan ini, pengetahuan terkini mengenai hubungan antara faktor psikologis dan cedera olahraga disajikan dan model teori stres dikembangkan.
Dengan adanya kecendrungan prestasi yang meningkat, maka untuk berpartisipasi dan bersaing antar atlet dalam kegiatan olahraga prestasi harus dikembangkan kualitas fisik, teknik, psikologi dan sosial yang dituntut oleh cabang olahraga tertentu.
Seorang ahli terkenal Thorndike dalam eksperimenya atau hukum yang diberi nama hukum akibat (law of effect), menyatakan bahwa respon yang dihargai cenderung diulang pada situasi tertentu, sedangkan respon yang tidak diberikan penghargaan cenderung untuk tidak diulang. Dengan adanya hukum akibat ini berarti pemberian penghargaan pada seorang siswa dalam belajar sangat penting dalam keberhasilan belajarnya.
Kebanyakan atlet meluangkan waktu yang begitu panjang dalam latihan fisik guna dapat mendapatkan keunggulan dalam kompetisi. Tetapi, mereka sering lupa bahwa dalam kompetisi olahraga, mereka bukan sekedar kemampuan fisik tetapi juga kemampuan mental. Jika ada salah satu aspek yang terabaikan, tujuan yang hendak dicapai melalui latihan akan gagal terwujud, memang, latihan fisik mutlak diperlukan untuk mengasah kemampuan dan keterampilan. Ketika pertandingan sedang berlangsung, adakalanya kondisi psikis memainkan peran lebih penting daripada teknik permainan, sehingga banyak atlet dan pelatih yang mengatakan “dalam olahraga, 90-95% adalah urusan Mental”.
Referensi :
file:///C:/Users/Republic%20Of%20Gamers/Downloads/purwa,+Journal+manager,+Artikel+4+pdf.pdf
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11032102/
Comments
Post a Comment